Candi Murca

May 4, 2007

Webnya Langit Kresna Hariadi

Filed under: Uncategorized — Tedy Tirtawidjaja @ 11:31 pm

Selamat untuk Mas Langit Kresna Hariadi (penulis novel Gajah Mada) yang sudah punya website sendiri : http://www.langitkresnahariadi.com/

Semoga bisa dikembangan dengan menarik websitenya. Ditunggu juga novel terbarunya.

12 Comments »

  1. Hallo, penjualan CANDI MURCA I KEN AROK HANTU PADANG KARAUTAN sudah dimulai dari sekarang, jumlah halaman 832 akan terbit Akhir Juli atau awal Agustus dengan harga Rp 75000 sudah didiskon 25% sudah termasuk ongkos kirim ke alamat (melalui jasa pos, TIKI dlll) ke rekening antara lain :
    . BCA 2000282670
    . BRI 0021-01-044348-50-5
    . BNI46 0125721771
    . MANDIRI 143-00-0497600-5
    atas nama Suwandono SE, lebih jelasnya masuk ke http://www.langitkresnahariadi.com klik Panduan

    Comment by langit kresna hariadi — June 21, 2007 @ 2:40 pm

  2. Apa yang terjadi bila di tahun 2011 ditemukan jejak bayangan sebuah candi dengan ukuran jauh lebih besar dari Borobudur ? Berpikir macam itu identik dengan ide tentang apa yang terjadi jika bumi ini didatangi sebuah pesawat angkasa luar yang besarnya jauh lebih besar dari sebuah kota (Film The Independent Day)

    Demikianlah candi itu dibuat pada zaman Mataram tepatnya di masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Candi yang sangat besar itu terpaksa dihilangkan dari pandangan mata karena ada pihak-pihak tertentu yang berupaya menghancurkannya, tak ada pilihan lain untuk melindunginya maka ia harus dimurcakan dan hanya dalam bulan purnama tertentu tampak bayangannya, yang hanya lamat-lamat berada di antara ada dan tiada.

    Uwwara Kenya perempuan dari masa silam itu, ia memiliki wajah yang amat cantik yang tak pernah pudar meski sang waktu bergeser deras. Bila Uwwara Kenya murka dari keningnya muncul mata ke tiga yang mampu menghanguskan apa pun. Uwwara Kenya dikawal dengan setia oleh tujuh orang pengikutnya yang oleh karenanya disebut kelompok tujuh, didukung oleh ribuan ekor codot berukuran besar, salah satu di antaranya kelelawar berkulit albino yang yang dengan setia melekat mengikuti ke mana pun majikannya pergi.

    Tujuh pengikut Uwwara Kenya memiliki pertanda berupa ular melingkar yang menempatkan diri di telapak tangan di balik kulit di atas daging yang apabila purnama datang akan menyebabkan terjadinya perubahan tujuh orang gedibal itu, wajah mereka berubah mengerikan dengan kemampuan yang mengerikan.

    Namun Uwwara Kenya memiliki musuh yang dengan mati-matian berusaha melindungi candi itu. Musuh yang berderajad Dharmadyaksa sebuah agama itu berusaha mencegah apa pun yang dilakukan Uwwara Kenya bahkan melalui pertempuran yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Puncak dari pertempuran itu Uwwara Kenya kalah dan memutuskan bereinkarnasi di masa yang akan datang, di mana nantinya ia bisa melanjutkan niatnya menghancurkan candi.

    Namun Sang Dharmadyaksa menyusul bereinkarnasi pula.

    Uwwara Kenya yang terlahir lebih dulu berusaha mati-matian memburu titisan kembali itu yang dipastikan akan terlahir kembali dari perkawinan kakak beradik yang masing-masing tidak menyadari mereka adalah kakak beradik. Uwwara Kenya mengamuk membabi buta, hanya sayang titisan kembali Sang Dharmadyaksa itu dikawal ketat oleh pengikutinya yang berjumlah lima orang yang masing-masing siap berkorban nyawa. Jumlah mereka yang lima selanjutnya disebut sebagai kelompok lima .

    Lima orang pengawal kelahiran kembali Sang Dharmadyaksa berhadapan dengan tujuh orang kaki tangan Uwwara Kenya .

    Adalah ketika Ken Arok baru seorang maling yang malang melintang dan membuat resah akuwu Tumapel Tunggul Ametung, kisah Candi Murca, Ken Arok Hantu Padang Karautan ini dimulai. Parameswara yang ingin mengetahui orang tua kandungnya pergi meninggalkan Bumi Kembang Ayun di Blambangan dan menolak permintaan ayah angkatnya menggantikannya sebagai pimpinan di padepokan olah kanuragan itu.

    Pada saat yang sama seorang gadis bernama Swasti Prabawati justru datang menghadap Ki Ajar Kembang Ayun meminta petunjuk mencari jejak ayahnya yang telah sebulan menghilang. Perkenalan Parameswara dan Swasti Prabawati bermuara ke hubungan asmara tanpa mereka tahu mereka adalah kakak beradik. Parameswara berayah Panji Ragamurti, seorang Patih di Kediri sementara Swasti Prabawati akhirnya tahu ayah yang dicintainya ternyata bukan ayah kandungnya, ia terlahir dari Narasinga melalui pemerkosaan yang dilakukan terhadap seorang perempuan yang akhirnya mati ketika melahirkan gadis buah pemerkosaan itu.

    Amat terlambat Parameswara dan Swasti Prabawati sadar, bahwa Narasinga dan Panji Ragamurti adalah orang yang sama.

    Bayi yang akan lahir dari perkawinan kakak beradik itulah yang justru sedang ditunggu dan diburu-buru oleh Uwwara Kenya dan tujuh orang pengikutnya yang celakanya menempatkan Parameswara dan Swasti Prabawati terjerat takdir sebagai pengikut perempuan itu pula, karena dari masing-masing telapak tangannya muncul tanda ular yang menggeliat menempatkan diri di balik kulit di atas daging.

    Parameswara yang telah berubah menjadi sakti mandraguna sejak menenggak air suci Tirtamarthamanthana Nirpati Vasthra Vyassa Tripanjala harus berperang melawan dirinya sendiri terutama ketika bulan purnama menyita kesadarannya. Namun dengan penuh pengabdian dan bahkan rela berkorban nyawa kelima pelindung kelahiran calon jabang bayi itu berjuang keras memberikan perlawanan.

    Ketika pertikaian itu terjadi, sebuah padang ilalang bernama Karautan sedang menyita perhatian seorang Brahmana bernama Lohgawe dan seorang Empu pembuat keris dari Lulumbang. Padang Karautan itu sungguh sebuah tempat yang mengerikan karena dihuni berbagai binatang buas, setiap malam sering terdengar aum harimau dan lolong ratusan ekor serigala.

    Yang mencuri perhatian Brahmana Lohgawe adalah seorang perampok dan maling kecil bernama Ken Arok yang menjadikan tempat itu sebagai persembunyian. Mata Sang Brahmana Lohgawe sangat awas terhadap keajaiban alam, ia menduga Ken Arok yang maling kecil itu merupakan Titisan Syiwa, yang kelak akan menjadi cikal bakal Raja di tanah Jawa.

    Sebaliknya Empu Gandring yang hadir pula di tempat itu mempunyai ketajaman mata dalam bentuk yang lain, ia melihat sesuatu yang melayang-layang di langit. Empu Gandring merasa was-was tersita perhatiannya oleh batu bintang yang melesat cepat di angkasa, jenis batu yang ia yakini bakal menimbulkan bencana. Dengan ketajaman mata hatinya Empu Gandring berusaha menerka di daerah mana batu bintang itu akan jatuh dan menimbulkan bencana. Meski belum terjadi, Empu Gandring melihat asap berada di mana-mana, asap kekuningan berasal dari bintang jatuh yang menebar kematian, berburu menyergap makhluk apa pun yang berdaging, dihisap habis menyisakan tulang belulang.

    Mata hati Empu Gandring belum mampu melihat, akan jatuh di mana batu bintang itu.

    Dalam perjalanannya, Parameswara harus bersinggungan dengan urusan Ken Arok, karena Hantu dari Padang Karautan itu adalah penjilmaan kembali dari Rakai Walaing Pu Kumbayoni, orang berusia panjang yang menunggu kematiannya di balik Air Terjun Seribu Angsa, orang itulah yang telah memberinya air suci Tirtamarthamanthana Nirpati vasthra Vyassa Tripanjala yang menyebabkan ia menjadi sakti mandraguna karena kesediaannya memenuhi permintaan orang itu dengan membunuhnya.

    Pun keterlibatan Parameswara terhadap Ken Dedes tidak juga bisa dihindari karena pada diri Ken Dedes melekat jiwa Sri Sanjayawarsa, permaisuri Rakai Walaing Pu Kumbayoni yang juga mati di tangan melalui sebilah keris bernama Sang Kelat. Parameswara terpaksa memenuhi permintaan membunuh mereka karena hanya melalui cara itulah ia bisa melindungi anaknya yang bakal menjadi bulan-bulanan Uwwara Kenya .

    Sementara itu di tahun 2011,

    Parra Hiswara mengalami kecelakaan ketika menggali tanah sebagai tandon WC, tanah ambrol menyebabkan ia tertarik oleh gravitasi bumi karena di bawah tanah rupanya terdapat sebuah sumur vertikal. Mahdasari sang Istri mengalami kepanikan luar biasa pun demikian pula dengan para tetangga yang berusaha menolong. Hirkam menggunakan tali carmantel menyusur turun mendapati kenyataan, sumur yang bagai tanpa dasar itu sangat aneh. Hirkam yang berhasil keluar nyaris kehilangan nyawa karena makhluk tak dikenal mencakar punggung dan kakinya.

    Tak ada pilihan lain dan dengan mengabaikan keselamatan Parra Hiswara lobang sumur itu ditutup dan dicor dengan semen. Dengan demikian bisa dipastikan Parra Hiswara terkubur untuk selamanya di gua bawah tanah itu.

    Namun Parra memang mendapati keadaan yang aneh di ruang bawah tanah itu. Ia menemukan tujuh buah meja batu melingkar yang layak disebut tempat tidur karena ada tujuh orang tidur di atasnya. Pada tujuh meja batu di luar hanya ada enam orang berbaring satu di antaranya kosong sementara meja batu di bagian tengah tidur seorang perempuan amat cantik dalam keadaan telanjang bulat.

    Di tempat itulah Parra Hiswara bertemu dengan orang yang memiliki ujut sama dengan dirinya, bak pinang dibelah dua, orang dari masa silam itu mengaku bernama Parameswara, yang mestinya tidur di meja batu ke tujuh namun memilih terpicing beratus ratus tahun lamanya karena tidak sudi menjadi kaki tangan Uwwara Kenya. Parra Hiswara tentu kaget ketika orang itu menyebut telah menunggu pertemuan itu delapan ratus tahun lamanya. Parameswara minta kepada Parra Hiswara agar bersedia membunuh dirinya, hanya itulah cara agar ia bisa keluar kembali ke permukaan.

    Parra Hiswara tidak punya pilihan lain, dengan sebilah keris aneh bernama Sang Kelat yang ia terima, orang itu dibunuh dan ambyar menjadi serpihan abu memunculkan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Parra Hiswara yang berusaha keras bertahan untuk tidak terputar mampu melihat saat-saat terakhir seekor codot berkulit putih muncul dan melukai telapak tangannya.

    Ketika Parra Hiswara tersadar, ia terkejut karena waktu telah berubah menjadi malam penuh bintang. Parra Hiswara menganggap dirinya gila ketika berada di sebuah candi yang sangat besar, candi yang terletak di kaki dua buah gunung, gunung Merapi dan Merbabu, padahal jarak yang membentang dari dua gunung itu ke rumahnya di Malang nyaris empat ratus kilometer.

    Rupanya Parra Hiswara telah terlempar jauh melintasi dimensi ruang dan waktu. Ketika Parra Hiswara kembali ke kota Singasari tak jauh dari Malang , ia mendapati istri yang dicintainya hilang diculik orang.

    Di tahun 2011 itu, kelompok tujuh yang masing-masing memiliki tanda berbentuk ular melingkar di telapak tangannya mulai bermunculan. Pun demikian pula kelompok lima yang memiliki rajah berbentuk cakra mulai muncul pula memberikan perlawanan mati-matian. Apalagi sejak Parra Hiswara muncul di pelataran candi, jejak bayangan candi itu mulai sering muncul dan bisa dilihat di bulan purnama, semakin banyak saja orang yang bisa melihat ujutnya.

    Meski candi itu masih murca, berada di wilayah bayang-bayang antara ada dan tiada.

    Comment by langit kresna hariadi — August 5, 2007 @ 11:36 pm

  3. Assalamu’alaikum Pak Langit,
    Salam perkenalan dari saya arek Mojokerto, tepatnya arek Trawas, kurang lebih 50 km dari Kabupaten Mojokerto, dan kurang lebih 25 km dari Singosari Malang.

    Pak Langit,
    Jujur saja, dengan membaca sinopsis ini saya jadi sedikit mengerti alurnya, dan apa yang akan terjadi di buku-buku Bapak selanjutnya.
    (Saat ini saya sedang membaca Candi Murca 2. Sementara gajah Mada, sudah tamat saya baca 5 jilid), hanya tinggal Paregrek yang belum).
    Tapi dengan mengetahui sedikit sinopsis ini, akan mempengaruhi saya dalam melakukan sport jantung, berfikir, berimajinansi, karena telah dituntun (menjadi kurang seru).

    Tapi, itu hanya masalah selera menurut saya. barangkali buat orang lain, justru akan sangat membantu.

    Pak Langit,
    Ada energi baru, kenapa saya jadi begitu gandrung dengan buku-buku Bapak, dikala saya lagi kosong, selama ini membaca apa saja, tapi begitu ada Gajah Mada dan Candi Murca, maka ini menjadi suplemen saya saat penat sudah terasa di pikiran dan badan saya.

    Pak Langit,
    Ngapunten kalo agak panjang, tapi inilah cara saya biar lebih dekat dengan Bapak.
    Selanjutnya, saat saya membaca buku-buku Bapak, saya merasakan seperti sedang pulang kampung, saya begitu bisa merasakan dan berimajinasi, karena daerah saya adalah kampung/desa Trawas, yang letak nya diantara Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang, dan ini sekaligus menjadi obat kerinduan saya dengan Ibu dan Bapak saya di Trawas.
    Saya waktu masih SD, sudah pernah ke puncak Penanggungan, ke Candi Triloka Jolotunda (Air terjun tempat mandinya putri raja”katanya”).

    Pak Langit,
    Insya Alloh, kalau saya pulang kampung, saya akan sempatkan waktu ke Singosari untuk melihat-lihat dan berkenalan lebih dekat dengan Bapak.

    Matur Nuwun.
    Wassalam,

    Aris Supriyanto

    Note :
    Saat ini saya tinggal di :
    Kemang Swatama Resident Blok O-15, Kalibaru, Sukmajaya Depok 16414.
    Phone : 021 77825111
    HP : 081584063840

    Comment by Aris Supriyanto — May 23, 2008 @ 9:11 am

  4. Pak Langit, saya Yurianti, penggemar berat karya-karya Bapak. Saya mau tanya, bagaimana dengan kelanjutan Candi Murca? Saya baru saja sampai jilid yang ketiga, sudah sejak lama menunggu sambungannya. Terimakasih atas karya-karya besar Bapak yang memuaskan imajinasi saya.

    Comment by Yurianti — May 16, 2013 @ 4:22 pm

  5. kulanuwun Pakdhe Langit…

    Comment by stefanus agus — August 15, 2013 @ 9:12 am

  6. Saya butuh buku ” Candi Murca 4 – Ken Dedes Sang Andhanareswari ”
    Perang Paregreg # 1 & # 2,…..harga ga masalah.
    Hub. 082180613717

    Comment by Gunawan Budiraharjo — May 30, 2014 @ 1:22 pm

  7. Saya idem dengan Mba Yurianti………..

    Comment by Suprayitna — December 11, 2014 @ 5:26 pm

  8. Mohon Komentar Anda Pak Langit,

    DAMARWULAN dan MINAKJINGGO [Sebuah pembohongan sejarah]
    .
    Tersebutlah seorang ratu bernama Dewi Suhita yang bergelar Ratu Ayu Kencana Wungu (Suhita: tahun 1429-1447). Ia adalah penguasa Kerajaan Majapahit yang ke-6.
    Pada era pemerintahannya, Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah yang kemudian dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di Trowulan, Jawa Timur, itu.
    Salah satu kerajaan kecil yang menjadi taklukan Majapahit adalah Kerajaan Blambangan yang terletak di Banyuwangi. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang bangsawan dari Klungkung, Bali, bernama Adipati Kebo Marcuet. Adipati ini terkenal sakti dan memiliki sepasang tanduk di kepalanya seperti kerbau.
    Keberadaan Adipati Kebo Marcuet ternyata menghadirkan ancaman bagi Ratu Ayu Kencana Wungu. Meskipun hanya seorang raja taklukan, namun sepak terjang Adipati Kebo Marcuet yang terus-menerus merongrong wilayah kekuasaan Majapahit membuat Ratu Ayu Kencana Wungu cemas. Ratu Majapahit itu pun berupaya menghentikan ulah Adipati Kebo Marcuet dengan mengadakan sebuah sayembara untuk mengalahkan Adipati Kebo Marcuet, maka dia akan diangkat menjadi Adipati Blambangan yang baru dan dijadikan sebagai suami.
    Sayembara itu diikuti oleh puluhan orang, namun semua gagal mengalahkan kesaktian Adipati Kebo Marcuet. Hingga datanglah seorang pemuda tampan dan gagah bernama Jaka Umbaran yang berasal dari Pasuruan. Ia adalah putera Ki Ajar Pamenger.
    Rupanya, Jaka Umbaran mengetahui kelemahan Adipati Kebo Marcuet. Maka, dengan senjata pusakanya gada wesi kuning (gada yang terbuat dari kuningan), dan dibantu oleh seorang pemanjat kelapa yang sakti bernama Dayun, Jaka Umbaran berhasil mengalahkan Adipati Kebo Marcuet.
    Ratu Ayu Kencana Wungu sangat gembira dengan kekalahan Adipati Kebo Marcuet. Ia pun menobatkan Jaka Umbaran menjadi Adipati Blambangan yang baru dengan gelar Minak Jinggo. Akan tetapi, Ratu Ayu Kencana Wungu menolak menikah dengan Jaka Umbaran karena pemuda itu kini tidak lagi tampan akibat pertarungannya dengan Adipati Kebo Marcuet.
    Jaka Umbaran alias Minakjingga tetap bersikeras menagih janji. Ia datang ke Majapahit untuk melamar Ratu Ayu Kencana Wungu meskipun pada saat itu ia telah memiliki dua selir bernama Dewi Wahita dan Dewi Puyengan. Lamaran Minakjingga bertepuk sebelah tangan karena sang Ratu tetap tidak sudi menikah dengannya.
    Penolakan itu membuat Minakjingga murka dan memendam dendam kepada Ratu Ayu Kencana Wungu. Untuk melampiaskan kemarahannya, Minakjingga merebut beberapa wilayah kekuasaan Majapahit sampai ke Probolinggo (Perang Paregrek). Tidak hanya itu, Minakjingga pun berniat untuk menyerang ibu kota Majapahit. Ratu Ayu Kencana Wungu sangat khawatir ketika mendengar bahwa Minakjingga ingin menyerang kerajaannya. Maka, ia pun menggelar sayembara kedua.
    Sekali lagi, puluhan pemuda turut serta dalam sayembara tersebut, namun tidak ada satu pun yang berhasil mengungguli kesaktian Minakjingga. Hal ini membuat sang Ratu semakin cemas.
    Saat kekhawatiran sang Ratu semakin besar, datanglah seorang pemuda tampan bernama Damarwulan.
    Pertarungan sengit antara dua pendekar sakti itupun terjadi. Keduanya silih-berganti menyerang. Namun, akhirnya Damarwulan kalah dalam pertarungan itu hingga pingsan terkena pusaka gada wesi kuning milik Minakjingga. Damarwulan pun dimasukkan ke dalam penjara.
    Rupanya, kedua selir Minakjingga, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan, terpikat melihat ketampanan Damarwulan. Mereka pun secara diam-diam mengobati luka pemuda itu. Bahkan, mereka juga membuka rahasia kesaktian Minakjingga.
    Pada malam harinya, Dewi Sahita dan Dewi Puyengan mencuri pusaka gada wesi kuning saat Minakjingga terlelap. Pusaka itu kemudian mereka berikan kepada Damarwulan. Setelah memiliki senjata itu, Damarwulan pun kembali menantang Minakjingga untuk bertarung. Alangkah terkejutnya Minakjingga saat melihat sejata pusakanya ada di tangan Damarwulan.
    Minakjinggapun tidak bisa melakukan perlawanan sehingga dapat dengan mudah dikalahkan.
    Akhirnya, Adipati Blambangan itu tewas oleh senjata pusakanya sendiri. Damarwulan memenggal kepada Minakjingga untuk dipersembahkan kepada Ratu Ayu Kencana Wungu. Damarwulan pun berhak menikah dengan Ratu Ayu Kencana Wungu dan mendampinginya menjadi Raja Majapahit.
    KEKACAUAN CERITA:
    Keruwetan cerita ini karena ditulis di Mataram tahun 1736 dg tujuan politik untuk menyudutkan Blambangan yg waktu itu berkonflik dg Mataram memperebutkan hak sebagai pewaris tahta Majapahit. Para pujangga Mataram mencampur aduk kejadian2 tahun 1406, 1429, 1736, 1479, dan 1428 menjadi cerita di atas.
    Perhatikan poin2 ini:
    1. Perang Paregrek terjadi sekitar tahun 1406 antara Wikramawardhana (Majapahit Barat/Trowulan) vs Bhre Wirabhumi (Majapahit Timur)
    2. Majapahit Barat dipimpin Kenconowungu (Suhita) tahun 1429-1447.
    Suhita = puteri Wikramawardhana dg selir (keponakan Bhre Wirabhumi).
    3. Blambangan dipimpin Kebo Marcuet (Keturunan Bali), yg dimaksud adalah Pangeran Danuningrat (Raja Blambangan ke-17 tahun 1736-1763) yg berkuasa saat cerita Damarwulan ini ditulis di Mataram. Saat itu ada konflik Mataram-Blambangan. Prabu Danuningrat digelari Pangeran Menakjingga oleh bangsawan Mataram untuk menguatkan cerita palsu itu.
    4. Joko Umbaran putera Ki Ajar Pamengger ikut “sayembara I” mengalahkan Kebo Marcuet.
    Yang mengadakan Sayembara adalah Wikramawardhana, dan yg ikut sayembara adalah Gajah Narapati. Saat itu bahkan Suhita belum lahir.
    Ki Ajar Pamengger adalah Lembu Mirunda putera Brawijaya I yg menjadi guru spiritual di Gunung Bromo. Putera Ki Ajar Panengger adalah Menak Sembar, menantu Prabu Siung Laut (Raja Blambangan ke-4 berkuasa tahun 1478-1479), kemudian Menak Sembar naik tahta sebagai raja ke-5 tahun 1479-1489).
    Joko Umbaran ini siapa? Jika Joko Umbaran adalah Menak Sembar, maka yg terjadi bukan penaklukkan tapi ikatan pernikahan antara Trah Lembu Mirunda dg Trah Blambangan.
    Jika Joko Umbaran melakukan penaklukkan, maka dia adalah Gajah Narapati.
    5. Joko Umbaran menang, diangkat jadi adipati Blambangan bergelar Menak Jinggo, ingin menagih janji dan melamar Suhita.
    6. Damarwulan ikut “sayembara II” mengalahkan Menak Jinggo, menikahi Suhita. Damarwulan adalah Arya Damar (Adipati Palembang) dan yang dikalahkan Damarwulan adalah Gajah Narapati tahun 1428 untuk menuntut balas atas kematian Bhre Wirabhumi (kakek Suhita) yg dibunuh Gajah Narapati.
    .
    Jadi:
    Menak Jinggo bukan keturunan Hayam Wuruk.
    Menak Jinggo bukan Bhre Wirabhumi. Jika Menak Jinggo adalah Bhre Wirabhumi putera Hayam Wuruk, tidak mungkin dia mau melamar Suhita karena Suhita adalah Cucu keponakannya sendiri.
    Oleh: Bathara Wirabhumi Aji Rajanatha

    https://www.facebook.com/groups/471315029707535/permalink/551336168372087/

    Comment by Eko Wahyudi — February 29, 2016 @ 2:33 pm

  9. pak untuk novel majapahit ke 3 banjir bandang dari utara sudah terbit atau tidak
    tolong hub saya ya di Face book: Raymizard alifian

    Comment by Raymizard alifian — July 21, 2016 @ 7:19 am

  10. tolong segera di selesaikan ya pak soalnya saya sudah tamat yang ke 1 & 2
    terimakasih atas perhatiannya

    Comment by Raymizard alifian — July 22, 2016 @ 7:08 am

  11. Siang Pak Langit…saya mau nanya nie untuk kelanjutan Candi murca 4 gimana? saya coba cari2 disemua toko buku kok ga ada..apakah belum terbit ato bagaimana?trus buku yang no 1 saya hilang, mau cari lagi kok susah juga nyarinya…mohon infonya..makasih

    Comment by Sindy — October 4, 2016 @ 11:55 am

  12. Pak Langit,,, saya penggemar berat buku buku karangan bapak , setiap terbit dan ada di rak gramedia saya langsung beli …tapi saat ini saya kesulitan untuk mendapat buku karangan Pak Langit yang lain , seperti candi murca 3 dan 4 , perang paregreg 1 dan 2 , bagaimana saya bisa mendapatkan buku buku tersebut , mohon infonya

    Comment by alexander SR — October 25, 2016 @ 8:34 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: