Candi Murca

April 11, 2007

Pembuka

Filed under: Uncategorized — Tedy Tirtawidjaja @ 2:12 pm

Blog ini didedikasikan untuk membuat ulasan mengenai novel karangan Langit Kresna Hariadi berjudul Candi Murca (terbit pertengahan tahun 2007). Setelah membaca blog milik Jay yang memuat tawaran Mas Langit Kresna Hariadi tentang pembuatan blog untuk mengulas novel Candi Murca, saya segera membuat blog ini. Naskah aslinya sendiri saya malah belum mendapatkannya :D tapi saya sudah kirim email ke candimurca@yahoo.co.id Seperti yang dijanjikan oleh Mas Langit bahwa peminat naskah asli novel tersebut diharap mengirim email ke alamat tadi.

Untuk Mas Langit, saya tunggu kiriman emailnya. Blognya sudah siap diisi dengan ulasan novel karangan Anda. :D

About these ads

26 Comments »

  1. setelah saya membaca serial GAJAH MADA (1-4) saya sungguh semakin penasaran dengan karya LANGIT KRESNA HARIADI berikutnya….terutama yang CANDI MURCA…menunggu waktu peluncuran yang katanya pertengahan thn 2007 menjadi terasa sangat luuuuama sekali…jika nantinya Novel CANDI MURCA telah diluncurkan apakah saya bisa melakukan PEMBELIAN LANGSUNG kpd pak Langit/management yang menangani hal itu ?? karena saya ingin koleksi novel saya itu betul2 original yang ada tanda tangan pengarangnya…mohon jawaban dari Pak Langit.

    Comment by James Bond — April 15, 2007 @ 2:33 pm

  2. I’m agree with mr. James Bond……. saran saya agar Pak Langit dapat membuat suatu mekanisme pembelian langsung tsb ..harapannya kami dapat memberoleh keuntungan antara lain : menerima buku sebelum buku tsb diedarkan di Gremedia, harga bs lebih murah, original ada tanda tangan asli penulis, bisa korespondensi utk dpt discuss banyak hal mulai yg ringan-ringan aja sampai yg agak “abot”, dll…saya tunggu konfirmasi dari Pak Langit or managementnya….

    Comment by UUN si ragil — April 16, 2007 @ 1:14 pm

  3. kalau menurut saya pribadi, lebih baik Mas Langit mengadakan jumpa fans saja :D (mungkin istilah yang lebih pas : BEDAH BUKU). Jadi di acara tersebut (misalnya kerjasama dengan Gramedia) bisa diadakan diskusi tentang isi buku, sesi tanda tangan buku, foto bersama mungkin :D

    Comment by tedytirta — April 16, 2007 @ 1:35 pm

  4. Sebuah gagasan yang menarik, tiba-tiba setelah merenungkan saya jadi mikir, mengapa tidak?
    Okey, usulan itu akan saya olah dan tentu saja saya amat berharap pada masukan teman-teman, bagaimana Tedy?

    Comment by langit kresna hariadi — April 16, 2007 @ 3:01 pm

  5. @Langit : terserah Mas Langit sajalah :d
    saya manut saja. Penjualan dan pengiriman buku apa tidak terlalu merepotkan Mas?
    Saya sih lebih cenderung bertahan di usul tentang acara BEDAH BUKU. Tapi ya monggo silakan kalau Mas Langit mau jualan sendiri juga bukunya :D selain dijualin ama Gramedia

    Comment by tedytirta — April 16, 2007 @ 3:21 pm

  6. aku ikutan program pembelian langsung kalau memang mulai candi murca hal itu udah bisa dilaksanakan, soalnya aku dah terlanjur kesengsem ama karyanya Pak Langit..tapi janji harga harus lebih murah lho, juga pengiriman yang lebih cepat sebelum dipajang di Gramedia lho Pak Langit.selamat berkarya & sukses selalu

    Comment by Chandra — April 18, 2007 @ 10:06 am

  7. Hallo, candi murca sudah semakin dekat, untuk mengambil covernya coba tengok di http://www.langitkresnahariadi.com

    Comment by langit kh — May 3, 2007 @ 4:40 pm

  8. Saya sangat menikmati dan salut dengan hasil karya pak Langit. wahh…sy harus kebut membaca seri Gajah Mada yg ke 3,4,5 sebelum Candi Murca di publish.

    Comment by nafra — May 14, 2007 @ 10:41 am

  9. What is Candi Murca. Setahu saya ndak ada situs candi yang pake nama MURCA. atau saya yang kuper. eeh pak kresna after Ken Arok apa yang akan sampeyan kupas lagi. Harapan saya sih karya yang terkait dengan era mataram hindu atau sebelumnya soalnya sedikit sekali tulisan atau sumber cerita di era ini. atau mungkin tentang Banyakwide , saya penasaran dengan karakter ini. Benarkah ia se “buruk” yang ada gambarkan.

    Comment by Adikara — May 20, 2007 @ 2:53 am

  10. Setelah candi murca, bagaimana kalo kisah Raden Wijaya dalam mendirikan Majapahit? kan asyik tuh, cerita sejarah yang kompleks sekali, dimulai dari perang internal Kertanegara-Jayakatwang sampai invasi pihak asing(Cina, Mongol)… gimana2?

    Comment by gorofaiz — June 6, 2007 @ 2:59 pm

  11. Hallo, penjualan CANDI MURCA I KEN AROK HANTU PADANG KARAUTAN sudah dimulai dari sekarang, jumlah halaman 832 akan terbit Akhir Juli atau awal Agustus dengan harga Rp 75000 sudah didiskon 25% sudah termasuk ongkos kirim ke alamat (melalui jasa pos, TIKI dlll) ke rekening antara lain :
    . BCA 2000282670
    . BRI 0021-01-044348-50-5
    . BNI46 0125721771
    . MANDIRI 143-00-0497600-5
    atas nama Suwandono SE, lebih jelasnya masuk ke http://www.langitkresnahariadi.com klik Panduan

    Comment by langit kresna hariadi — June 21, 2007 @ 3:10 pm

  12. Apa yang terjadi bila di tahun 2011 ditemukan jejak bayangan sebuah candi dengan ukuran jauh lebih besar dari Borobudur ? Berpikir macam itu identik dengan ide tentang apa yang terjadi jika bumi ini didatangi sebuah pesawat angkasa luar yang besarnya jauh lebih besar dari sebuah kota (Film The Independent Day)

    Demikianlah candi itu dibuat pada zaman Mataram tepatnya di masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Candi yang sangat besar itu terpaksa dihilangkan dari pandangan mata karena ada pihak-pihak tertentu yang berupaya menghancurkannya, tak ada pilihan lain untuk melindunginya maka ia harus dimurcakan dan hanya dalam bulan purnama tertentu tampak bayangannya, yang hanya lamat-lamat berada di antara ada dan tiada.

    Uwwara Kenya perempuan dari masa silam itu, ia memiliki wajah yang amat cantik yang tak pernah pudar meski sang waktu bergeser deras. Bila Uwwara Kenya murka dari keningnya muncul mata ke tiga yang mampu menghanguskan apa pun. Uwwara Kenya dikawal dengan setia oleh tujuh orang pengikutnya yang oleh karenanya disebut kelompok tujuh, didukung oleh ribuan ekor codot berukuran besar, salah satu di antaranya kelelawar berkulit albino yang yang dengan setia melekat mengikuti ke mana pun majikannya pergi.

    Tujuh pengikut Uwwara Kenya memiliki pertanda berupa ular melingkar yang menempatkan diri di telapak tangan di balik kulit di atas daging yang apabila purnama datang akan menyebabkan terjadinya perubahan tujuh orang gedibal itu, wajah mereka berubah mengerikan dengan kemampuan yang mengerikan.

    Namun Uwwara Kenya memiliki musuh yang dengan mati-matian berusaha melindungi candi itu. Musuh yang berderajad Dharmadyaksa sebuah agama itu berusaha mencegah apa pun yang dilakukan Uwwara Kenya bahkan melalui pertempuran yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Puncak dari pertempuran itu Uwwara Kenya kalah dan memutuskan bereinkarnasi di masa yang akan datang, di mana nantinya ia bisa melanjutkan niatnya menghancurkan candi.

    Namun Sang Dharmadyaksa menyusul bereinkarnasi pula.

    Uwwara Kenya yang terlahir lebih dulu berusaha mati-matian memburu titisan kembali itu yang dipastikan akan terlahir kembali dari perkawinan kakak beradik yang masing-masing tidak menyadari mereka adalah kakak beradik. Uwwara Kenya mengamuk membabi buta, hanya sayang titisan kembali Sang Dharmadyaksa itu dikawal ketat oleh pengikutinya yang berjumlah lima orang yang masing-masing siap berkorban nyawa. Jumlah mereka yang lima selanjutnya disebut sebagai kelompok lima .

    Lima orang pengawal kelahiran kembali Sang Dharmadyaksa berhadapan dengan tujuh orang kaki tangan Uwwara Kenya .

    Adalah ketika Ken Arok baru seorang maling yang malang melintang dan membuat resah akuwu Tumapel Tunggul Ametung, kisah Candi Murca, Ken Arok Hantu Padang Karautan ini dimulai. Parameswara yang ingin mengetahui orang tua kandungnya pergi meninggalkan Bumi Kembang Ayun di Blambangan dan menolak permintaan ayah angkatnya menggantikannya sebagai pimpinan di padepokan olah kanuragan itu.

    Pada saat yang sama seorang gadis bernama Swasti Prabawati justru datang menghadap Ki Ajar Kembang Ayun meminta petunjuk mencari jejak ayahnya yang telah sebulan menghilang. Perkenalan Parameswara dan Swasti Prabawati bermuara ke hubungan asmara tanpa mereka tahu mereka adalah kakak beradik. Parameswara berayah Panji Ragamurti, seorang Patih di Kediri sementara Swasti Prabawati akhirnya tahu ayah yang dicintainya ternyata bukan ayah kandungnya, ia terlahir dari Narasinga melalui pemerkosaan yang dilakukan terhadap seorang perempuan yang akhirnya mati ketika melahirkan gadis buah pemerkosaan itu.

    Amat terlambat Parameswara dan Swasti Prabawati sadar, bahwa Narasinga dan Panji Ragamurti adalah orang yang sama.

    Bayi yang akan lahir dari perkawinan kakak beradik itulah yang justru sedang ditunggu dan diburu-buru oleh Uwwara Kenya dan tujuh orang pengikutnya yang celakanya menempatkan Parameswara dan Swasti Prabawati terjerat takdir sebagai pengikut perempuan itu pula, karena dari masing-masing telapak tangannya muncul tanda ular yang menggeliat menempatkan diri di balik kulit di atas daging.

    Parameswara yang telah berubah menjadi sakti mandraguna sejak menenggak air suci Tirtamarthamanthana Nirpati Vasthra Vyassa Tripanjala harus berperang melawan dirinya sendiri terutama ketika bulan purnama menyita kesadarannya. Namun dengan penuh pengabdian dan bahkan rela berkorban nyawa kelima pelindung kelahiran calon jabang bayi itu berjuang keras memberikan perlawanan.

    Ketika pertikaian itu terjadi, sebuah padang ilalang bernama Karautan sedang menyita perhatian seorang Brahmana bernama Lohgawe dan seorang Empu pembuat keris dari Lulumbang. Padang Karautan itu sungguh sebuah tempat yang mengerikan karena dihuni berbagai binatang buas, setiap malam sering terdengar aum harimau dan lolong ratusan ekor serigala.

    Yang mencuri perhatian Brahmana Lohgawe adalah seorang perampok dan maling kecil bernama Ken Arok yang menjadikan tempat itu sebagai persembunyian. Mata Sang Brahmana Lohgawe sangat awas terhadap keajaiban alam, ia menduga Ken Arok yang maling kecil itu merupakan Titisan Syiwa, yang kelak akan menjadi cikal bakal Raja di tanah Jawa.

    Sebaliknya Empu Gandring yang hadir pula di tempat itu mempunyai ketajaman mata dalam bentuk yang lain, ia melihat sesuatu yang melayang-layang di langit. Empu Gandring merasa was-was tersita perhatiannya oleh batu bintang yang melesat cepat di angkasa, jenis batu yang ia yakini bakal menimbulkan bencana. Dengan ketajaman mata hatinya Empu Gandring berusaha menerka di daerah mana batu bintang itu akan jatuh dan menimbulkan bencana. Meski belum terjadi, Empu Gandring melihat asap berada di mana-mana, asap kekuningan berasal dari bintang jatuh yang menebar kematian, berburu menyergap makhluk apa pun yang berdaging, dihisap habis menyisakan tulang belulang.

    Mata hati Empu Gandring belum mampu melihat, akan jatuh di mana batu bintang itu.

    Dalam perjalanannya, Parameswara harus bersinggungan dengan urusan Ken Arok, karena Hantu dari Padang Karautan itu adalah penjilmaan kembali dari Rakai Walaing Pu Kumbayoni, orang berusia panjang yang menunggu kematiannya di balik Air Terjun Seribu Angsa, orang itulah yang telah memberinya air suci Tirtamarthamanthana Nirpati vasthra Vyassa Tripanjala yang menyebabkan ia menjadi sakti mandraguna karena kesediaannya memenuhi permintaan orang itu dengan membunuhnya.

    Pun keterlibatan Parameswara terhadap Ken Dedes tidak juga bisa dihindari karena pada diri Ken Dedes melekat jiwa Sri Sanjayawarsa, permaisuri Rakai Walaing Pu Kumbayoni yang juga mati di tangan melalui sebilah keris bernama Sang Kelat. Parameswara terpaksa memenuhi permintaan membunuh mereka karena hanya melalui cara itulah ia bisa melindungi anaknya yang bakal menjadi bulan-bulanan Uwwara Kenya .

    Sementara itu di tahun 2011,

    Parra Hiswara mengalami kecelakaan ketika menggali tanah sebagai tandon WC, tanah ambrol menyebabkan ia tertarik oleh gravitasi bumi karena di bawah tanah rupanya terdapat sebuah sumur vertikal. Mahdasari sang Istri mengalami kepanikan luar biasa pun demikian pula dengan para tetangga yang berusaha menolong. Hirkam menggunakan tali carmantel menyusur turun mendapati kenyataan, sumur yang bagai tanpa dasar itu sangat aneh. Hirkam yang berhasil keluar nyaris kehilangan nyawa karena makhluk tak dikenal mencakar punggung dan kakinya.

    Tak ada pilihan lain dan dengan mengabaikan keselamatan Parra Hiswara lobang sumur itu ditutup dan dicor dengan semen. Dengan demikian bisa dipastikan Parra Hiswara terkubur untuk selamanya di gua bawah tanah itu.

    Namun Parra memang mendapati keadaan yang aneh di ruang bawah tanah itu. Ia menemukan tujuh buah meja batu melingkar yang layak disebut tempat tidur karena ada tujuh orang tidur di atasnya. Pada tujuh meja batu di luar hanya ada enam orang berbaring satu di antaranya kosong sementara meja batu di bagian tengah tidur seorang perempuan amat cantik dalam keadaan telanjang bulat.

    Di tempat itulah Parra Hiswara bertemu dengan orang yang memiliki ujut sama dengan dirinya, bak pinang dibelah dua, orang dari masa silam itu mengaku bernama Parameswara, yang mestinya tidur di meja batu ke tujuh namun memilih terpicing beratus ratus tahun lamanya karena tidak sudi menjadi kaki tangan Uwwara Kenya. Parra Hiswara tentu kaget ketika orang itu menyebut telah menunggu pertemuan itu delapan ratus tahun lamanya. Parameswara minta kepada Parra Hiswara agar bersedia membunuh dirinya, hanya itulah cara agar ia bisa keluar kembali ke permukaan.

    Parra Hiswara tidak punya pilihan lain, dengan sebilah keris aneh bernama Sang Kelat yang ia terima, orang itu dibunuh dan ambyar menjadi serpihan abu memunculkan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Parra Hiswara yang berusaha keras bertahan untuk tidak terputar mampu melihat saat-saat terakhir seekor codot berkulit putih muncul dan melukai telapak tangannya.

    Ketika Parra Hiswara tersadar, ia terkejut karena waktu telah berubah menjadi malam penuh bintang. Parra Hiswara menganggap dirinya gila ketika berada di sebuah candi yang sangat besar, candi yang terletak di kaki dua buah gunung, gunung Merapi dan Merbabu, padahal jarak yang membentang dari dua gunung itu ke rumahnya di Malang nyaris empat ratus kilometer.

    Rupanya Parra Hiswara telah terlempar jauh melintasi dimensi ruang dan waktu. Ketika Parra Hiswara kembali ke kota Singasari tak jauh dari Malang , ia mendapati istri yang dicintainya hilang diculik orang.

    Di tahun 2011 itu, kelompok tujuh yang masing-masing memiliki tanda berbentuk ular melingkar di telapak tangannya mulai bermunculan. Pun demikian pula kelompok lima yang memiliki rajah berbentuk cakra mulai muncul pula memberikan perlawanan mati-matian. Apalagi sejak Parra Hiswara muncul di pelataran candi, jejak bayangan candi itu mulai sering muncul dan bisa dilihat di bulan purnama, semakin banyak saja orang yang bisa melihat ujutnya.

    Meski candi itu masih murca, berada di wilayah bayang-bayang antara ada dan tiada.

    Comment by langit kresna hariadi — August 5, 2007 @ 11:27 pm

  13. Saya sangat,, sangat,, sangat,, suka dengan Gajah Mada,, Saya udah baca bukunya sampai yang terakhir,, btw saya sangat setuju jika Mas Langit mengadakan acara bedah buku,, jadi antara pembaca dan penulis bisa sharing dan tanya jawab gitu,, hehehe,,

    Comment by Kaliya — September 17, 2007 @ 1:24 pm

  14. salam sejahtera buat semuanya…
    saya sudah baca buku serial Gajah Mada tulisan Pak Langit.Saya sangat terkesan melihat beliau mampu membuat novel yang begitu hebat(menurut saya).
    Saya juga cukup terkesan mengetahui bahwa serial Candi Murca yang sedang ditulis dapat diperoleh hanya dalam hitungan bulan.Sangat produktif sebagai penulis.
    Bahkan dengan melakukan produksi dan distribusi sendiri tidak mengurangi kualitas tulisannya.
    Saat saya menulis comment ini saya sudah membaca Candi murca 1 sampai halaman 500 -an.kalo boleh jujur, saya sedikit merasa aneh mengapa pak Langit harus mengambil latar peristiwa sampai dengan tahun yang kita sendiri belum melewatinya.
    Awal pertama saya berniat membaca Gajah Mada karena saya ingin membaca Novel sejarah, tapi tidak saya temui di serial Candi Murca 1.
    Satu saran saya untuk pak Langit : Saya mohon dengan sangat untuk istilah2 yang berbahasa jawa, saya lebih suka menjadi catatan kaki karena lebih mudah melihat dan tidak menggangu kita pembaca harus membalik2kan halaman untuk mengetahui artinya.

    Comment by atanasius — October 5, 2007 @ 3:14 pm

  15. apa yg Anda tulis di atas pak Langit khan belum sepenuhnya ada di Candi Murca 1.Saya udah selesai baca Candi Murca 1 (saya baca pas puasa n libur Lebaran). Menurut saya, novelnya baguuuus apalagi berlatar belakang sejarah. Saya khan suka banget dgn sejarah.Sekarang saya tunggu Candi Murca II.penasaran nih pingin tahu siapa saja yg akan datang ke Air Terjun Seribu Angsa, nasib Parameswara yg menyedihkan, bagaimana dgn Parra Hiswara selanjutnya dan sepak terjang Ken Arok. Tapi ya jujur aja, masih ada kekurangan, terutama pd tata bahasanya,banyak salah ketik atau nggak sesuai bhs.Indonesia yg baik n benar trus di novel yg saya beli catatan kakinya cuman sampai 87 (hal.817)pdhl cat.kaki khan sampai lebih dari itu. Saya sekarang lagi cari Gajah Mada 1. Wah…kok lagi habis ya di mana-mana.adanya yg kelanjutannya.Ok….saya tunggu Candi Murca II, katanya November ini selesai.Cepet dikit ya pak Langit.Makasih.Sukses selalu.

    Comment by era puspita — October 27, 2007 @ 6:46 pm

  16. Saya beli CM 1 di Gramedia Solo awal bulan ini tapi kok warna covernya beda dengan yg ditampilkan pak Langit dlm website beliau ya? Punya saya berwarna hijau tua sementara yg dlm website beliau berwarna oranye tua gitu. Jgn2 isinya berbeda pula tuh.hehehe
    Saran buat pak Langit : penamaan tokoh yang muncul di era 2011 kiranya tidak terlalu berbau ke-Hindu-an krn sepertinya di zaman sekarang, apalagi di daerah Singasari dan sekitarnya lebih banyak nama2 modern seperti Deni, Andri, Rudi, Beni, Dahnial, Muhammad anu, Ahmad anu, Sunarto, Suripto dan sebagainya :D
    Sukses Selalu!!

    Comment by Dicky A. Novriandy — November 22, 2007 @ 7:50 am

  17. Hmmmm rasanya seperti menikamati jejak sejarah masalalu yang begitu megah saat membaca Seri Gajah Mada. Kemudian Candi murca membuat saya penasaran unutuk mengikuti seri selanjutnya yang infonya akan sampai 10 Seri. Kapan launching seri 2 nya Pak?

    Comment by kasiani — November 22, 2007 @ 8:32 am

  18. pak langit,gajah mada mungkinkah ada versi ketika ekspansi ke bali?
    karena saya sangat ingin tau apa hubungan orang bali khususnya tabanan(saya dari bali dan dari tabanan) dengan ekspansi gajah mada beserta 7 arya,selama ini saya hanya diceritakan sepotong2 oleh kakek2 di kampung yang menyebutkan leluhur kami adalah salah satu arya tsb.dan untuk kelanjutan candi murca 1 kapan beredar di gramedia?

    Comment by jerk — December 3, 2007 @ 8:10 pm

  19. luar biasa tanggapan teman2 semua. Memang masih banyak rahasia yang belum terungkap tentang kebesaran kita di masa lalu. Dan Mas langit mampu mengisi kekosongan itu. Setelah tokoh2 populer ini ditulis oleh beberapa penulis (gajah mada selain mas LKH juga oleh M. Yamin, Arswendo (di bab2 terakhir senopati pamungkas, Ken Arok (Pramudya, dan banyak penulis yg lain) saya sangat mengharap ada yg nulis tentang awal2 pemerintahan kerajaan di Mataram Hindu, Mpu Sindok (migrasi ke Jatim), Perang paragreg yang terkenal itu, yang dikabarkan menjadi awal kehancuran majapahit (saya yakin banyak intrik2 politiknya), namun tidak ada referensi fiksi/non fiksi yang mengupasnya, atau Prabu Brawijaya V yang namanya besar tp minim kisah, Jaya Baya dll.
    Buku Babad Tanah Jawa yang ada menurut saya banyak kejanggalan tahun2 peristiwanya, apalagi waktu mengisahkan Gajah Mada yang dipecundangi Sunan gresik muda (???) ..wah jan logika tahunnya sangat payah.

    Namun kalau mas langit kita bebani dengan seabrek kisah yg harus beliau tuliskan untuk kita betapa berat perjuangan beliau, walaupun saya yakin mas langit suka melakukannya.
    Dalam Gajah Mada antara Imaginasi dan periode peristiwa dapat dipadukan dengan manis dan logik.

    Hanya beberapa kalimat yang periodenya tdk cocok adalah ketika dalam Buku GM (Buku yang keberapa??) ketika dongengan joko tarub dikisahkan….karena Joko tarub adalah kisah yang baru terjadi di era demak, joko tingkir dan mataram islam, masa yg jauh lebih muda dari jaman majapahit. but it’s oke, ngga merusak cerita besarnya.

    Bagi penulis lain, Arswendo, khususnya logika tahun dan fakta sejarah juga tertata sangat baik, semoga bisa berbagi tugas dengan mengisahkan tokoh2 yang pernah ada dengan gaya masing2 yang sama-sama memikat.

    Penulis2 Hebat, berkaryalah terus…

    Comment by agus kuswardoyo — December 18, 2007 @ 4:06 pm

  20. tak bisa berkata banyak…. bagus…. cuman ada kekurangannya sedikit, misalnya catatan kaki kalo bisa per halaman jadi gak perlu bolak balik ke halaman akhir, jadi gak sabar nunggu jilid II

    Comment by andhika — December 28, 2007 @ 10:25 pm

  21. Saya juga udah mengikuti cerita Gajah mada dari awal sampai akhir
    comment saya…
    Gajah Mada ga Bagus
    TAPI BUUAGUUUSSS…..!!!
    Menilik rencana CANDI MURCA yanga akan di tulis hingga 10 buku
    Sepertinya perjuangan BAPAK kita ini (maaf, saya masih muda. ga pantes panggil mas)
    akan sangat berat, meski saya yakin beliau sangat senang melakukannya
    saya do’akan smoga ceritanya tetap memikat dari awal, tengah, hingga akhir.
    HARAPAN SAYA, SUATU SAAT NANTI BAPAK SUDI MELUANGKAN WAKTU
    MENULISKAN CERITA TENTANG “KERAJAAN BELAMBANGAN”
    LATAR BELAKANG APA YANG MENYEBABKAN ADIPATI MINAK JINGGO (Menak ceng ho)
    melakukan pemberontakan terhadap Majapahit.
    ITU SEBAGAI SUDUT PANDANG LAIN, DI SAMPING ANGGAPAN KHALAYAK UMUM SAAT INI.
    sebagai “wong Blambangan” sendiri saya yakin Bapak mampu memberikan sumbangsih untuk sedikit banyak membantu meluruskan sejarah.
    Saya ikut bangga, ada anak ndeso asal Banyuwangi (ngapunten pak, kulo nggih tonggone njenengan kok) yang mampu menghasilkan karya sebesar Gajah Mada dan Insya Allah Candi Murca.

    Comment by indika — January 17, 2008 @ 3:20 pm

  22. terima kasih buat pak langit yang telah memberikan pencerahan sejarah majapahit. baru kali ini saya ketagihan membaca karangan pak langit. ceritanya sungguh enak diikuti, penginnya lagi dan lagi…

    Comment by asidiq — January 21, 2008 @ 3:35 pm

  23. JERK (POYOK NEEE) SUKA JUGA BACA BUKU LKH…..
    QTA SAMA2 DARI BALI (TABANAN – BELAYU LAGI).
    BUAT MAS LKH CEPET TERBITIN GAJAHMADA VI, JADI PENASARAN KEMANA ARAH CERITANYA SEKARANG (KAYAKNYA MAU BERSAMBUNG JUGA NICH, KARENA SUB JUDULNYA PERANG PAREGREK I).
    SUKSES SELALU…
    P.S.BUAT BUKUNYA SATU2 DONK, JGN SEKALIAN (CANDI MURCA II BELON TERBIT, EH MALAHAN BIKIN GAJAHMADA VI…).
    SURPRISE GITO LHO…

    Comment by AGUNG — February 1, 2008 @ 11:08 pm

  24. Membaca komentar tentang Candi Murca membuat saya semakin bersemangat mendampingi pak Langit dalam berkarya..perlu saya sampaikan bahwa buku Gajah Mada 6 (Perang Paregrek 1) kami usahakan dapat terbit pada bulan April 2008, saat ini tengah memasuki tahap final editting.. setelah itu sebelum Candi Murca 3 terbit, kami dahulukan terbit sebuah novel “TRUE STORY” dengan judul (mungkin bisa berubah) : SAAT ASMARA BERGEMING..sebuah novel yang berkisah tentang perjuangan seorang lelaki pribumi(jawa)untuk mendapatkan seorang Putri sulung keturunan Tionghua..kisah yang penuh dengan perjuangan, konflik, tetesan air mata, bahkan tajamnya pedang,sampai membawa “kutukan yang positif”…menurut saya pribadi kisah tersebut sangat luar biasa…nama pelaku, tahun & tempat kejadian semuanya ditampilkan original, jalan ceritanya sangat menarik dan endingnya sulit diterka. Saya yakin buku tersebut akan dapat mengalahkan popularitas “ayat-ayat cinta” yang saat ini sedang booming..kisah tersebut dengan gaya penulisan & kemampuan El-Kaha menjadi sangat luar biasa…

    Comment by SUWANDONO — March 18, 2008 @ 5:26 pm

  25. mBak Editor Perang Paregrek 1. Saya sudah tamatkan buku tersebut semalam. Please, kerja lebih keras lagi dong. Masak masih buanyak salah di sana sini sih… Kasihan Pak Langit, yang sdh susah payah ngejar tayang spy buku tsb segera terbit. Nanti di cetakan ke 2 saya harapkan sudah tidak ada kesalahan yang mengganggu pembaca. Kalau masih ada lowongan, boleh dong saya ngelamar jd editor? Lumayan bisa tahu duluan lanjutan GM ataupun CM-nya he..he…

    Comment by Guskar — May 19, 2008 @ 1:20 pm

  26. Mas langit, setelah candi murca air terjun 1000 angsa, apa lagi ya kelanjutannya, soalnya di tempat tinggal
    saya toko bukunya terbatas…terimakasih infonya.

    Comment by kasdan — May 14, 2009 @ 10:50 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: